Jumat, 21 September 2018


           
Riwayat hidup
 
Cerita ibu dan bapakku pada saat lahir diriku ke dunia ini sangat mengharukan. Betapa tidak, aku lahir tepat pada tengah malam. Saat itu kondisi kedua orangtuaku sangatlah sedih karena sebelum mereka mendapatkan aku ke dunia ini, mereka kehilangan anak laki-laki yang sangat mereka cintai dan mereka harapkan menjadi anak pertama berjenis kelamin laki-laki. Memang mereka sangat berharap yang lahir pada saat itu adalah bayi berjenis kelamin laki-laki. Namun tangisan bayi perempuan di tengah malam itu cukup menggantikan kesedihan ibu dan bapakku. Bahkan bapakku sudah menetapkan nama ‘Siti Qomariah’ yang memang sangat hits pada tahun 90-an. Tetapi entah mengapa akhirnya saya diberikan nama Ajeng Diah Febtriani. Mungkin agar agak lebih keren sedikit. Hehe. Ketika aku bertanya pada nenekku kenapa nama saya tidak jadi Siti Qomariah adalah karena satu RT sudah ada 3 nama bayi yang menggunakan nama tersebut. Akhirnya dapatlah nama Ajeng Diah Febtriani. Ajeng berarti terdepan, Diah berarti perempuan Jawa, Feb itu diambil dari bulan Februari ketika saya lahir, tri itu artinya anak ketiga---meskipun kakak sudah meninggal, dan ani berarti singkatan “anaknya SularnA dan DariNI” hehehe.
            Saya dibesarkan orangtua yang amat pekerja keras. Bapak saya bekerja serabutan sedangkan ibu saya menjadi buruh pabrik garam. Mereka bekerja bagai tak kenal lelah. Namun tak berapa lama ibu saya harus keluar dari pekerjaan tersebut karena bapak ingin ia saja yang bekerja. Ibu cukuplah mengurus anak di rumah. Sampai sekarang bapak masih bekerja apapun yang bisa ia kerjakan. Tidak ada yang pernah bapak keluhkan. Ia hanya ingin kedua anaknya bisa sekolah sampai lulus lebih lebih sampai menjadi sarjana.
            Lahirnya saya di dunia adalah anugrah terindah untuk kedua orangtuaku. Bayi kecil yang suka menangis itu masuk di TK Sarimino. Sekolah TK kecil yang pada saat itu masih diajar oleh Bu Parti—guru favoritku. Pada saat itu cita-cita yang selalu saya jawab ketika ditanya Bu Parti di depan kelas adalah menjadi seorang Putri Salju. Ya seorang putri salju yang sampai sekarang belum kesampaian. Imajinasi anak kecil pada saat itu memang sedang indah-indahnya. Ketika mereka melihat film kartun pasti mereka suka membayangkan besok akan menjadi apa yang dilihatnya.
            Sekolah dasar Tunggulsari yang hanya berjarak 10 meter dari rumah menjadi pilihan saya untuk melanjutkan sekolah. Alhamdulillah banyak sekali guru-guru yang mengenal saya pada saat itu karena saya selalu mendapatkan ranking 1 dari kelas 1 sampai kelas 6 SD. Saya sangat bersyukur dapat membanggakan ibu dan bapak saya. Masih jelas ingatan-ingatan itu. Bapak saya sering dipanggil oleh kepala sekolah untuk menerima hadiah. Saya berharap semangat belajar saya akan terus seperti itu. Saya ingin membahagiakan ibu dan bapak saya.
            Sampai sekarang saya tidak diperbolehkan bapak saya untuk naik motor. Mungkin bapak saya terlalu takut untuk membiarkan anaknya mengendarai sepeda motor sendirian di jalan raya. Ketika saya masuk ke SMP Kaliori saya tetap naik sepeda ontel. Saya mensyukurinya. Allah masih memberikan sepeda ontel untuk menemani saya berangkat sekolah. Saya bersyukur. Di kota Rembang tepatnya di SMA Negeri 2 Rembang saya melanjutkan sekolah. Hari-hari paling berat ketika di sekolah adalah pada saat ujian nasional tiba. Selesai ujian saya ditolak perguruan tinggi negeri. Saya pun move on dari PTN kemudian saya masuk ke Universitas PGRI Semarang. Di dunia kuliah memang sangat berbeda dengan dunia sekolah. Apalagi saya jauh dari orangtua dan harus pindah-pindah kos karena berbagai alasan.
            Kuliah saya mengikuti UKM yang mengantarkan saya untuk belajar mencintai sastra. Pada awalnya saya tidak mengetahui sastra itu apa. Namun saya mulai belajar untuk membaur bersama teman-teman satu UKM untuk mengikuti kelas menulis, bertemu sastrawan, dan banyak membaca buku. Sebenarnya semua itu sangat menyenangkan. Akan tetapi kendala waktu kuliah dan waktu di camp yang kadang bertabrakan membuat saya sering malas untuk ke camp. Begitulah kehidupan selama saya menjadi mahasiswa.
Terima kasih sudah merelakan waktunya untuk membaca riwayat hidup saya yang ala kadarnya ini.




           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar