Riwayat hidup
Cerita
ibu dan bapakku pada saat lahir diriku ke dunia ini sangat mengharukan. Betapa tidak,
aku lahir tepat pada tengah malam. Saat itu kondisi kedua orangtuaku sangatlah
sedih karena sebelum mereka mendapatkan aku ke dunia ini, mereka kehilangan
anak laki-laki yang sangat mereka cintai dan mereka harapkan menjadi anak
pertama berjenis kelamin laki-laki. Memang mereka sangat berharap yang lahir
pada saat itu adalah bayi berjenis kelamin laki-laki. Namun tangisan bayi perempuan
di tengah malam itu cukup menggantikan kesedihan ibu dan bapakku. Bahkan
bapakku sudah menetapkan nama ‘Siti Qomariah’ yang memang sangat hits pada
tahun 90-an. Tetapi entah mengapa akhirnya saya diberikan nama Ajeng Diah
Febtriani. Mungkin agar agak lebih keren sedikit. Hehe. Ketika aku bertanya
pada nenekku kenapa nama saya tidak jadi Siti Qomariah adalah karena satu RT
sudah ada 3 nama bayi yang menggunakan nama tersebut. Akhirnya dapatlah nama
Ajeng Diah Febtriani. Ajeng berarti terdepan, Diah berarti perempuan Jawa, Feb
itu diambil dari bulan Februari ketika saya lahir, tri itu artinya anak
ketiga---meskipun kakak sudah meninggal, dan ani berarti singkatan “anaknya
SularnA dan DariNI” hehehe.
Saya dibesarkan orangtua yang amat
pekerja keras. Bapak saya bekerja serabutan sedangkan ibu saya menjadi buruh pabrik
garam. Mereka bekerja bagai tak kenal lelah. Namun tak berapa lama ibu saya
harus keluar dari pekerjaan tersebut karena bapak ingin ia saja yang bekerja.
Ibu cukuplah mengurus anak di rumah. Sampai sekarang bapak masih bekerja apapun
yang bisa ia kerjakan. Tidak ada yang pernah bapak keluhkan. Ia hanya ingin
kedua anaknya bisa sekolah sampai lulus lebih lebih sampai menjadi sarjana.
Lahirnya saya di dunia adalah
anugrah terindah untuk kedua orangtuaku. Bayi kecil yang suka menangis itu
masuk di TK Sarimino. Sekolah TK kecil yang pada saat itu masih diajar oleh Bu
Parti—guru favoritku. Pada saat itu cita-cita yang selalu saya jawab ketika
ditanya Bu Parti di depan kelas adalah menjadi seorang Putri Salju. Ya seorang
putri salju yang sampai sekarang belum kesampaian. Imajinasi anak kecil pada
saat itu memang sedang indah-indahnya. Ketika mereka melihat film kartun pasti
mereka suka membayangkan besok akan menjadi apa yang dilihatnya.
Sekolah dasar Tunggulsari yang hanya
berjarak 10 meter dari rumah menjadi pilihan saya untuk melanjutkan sekolah.
Alhamdulillah banyak sekali guru-guru yang mengenal saya pada saat itu karena
saya selalu mendapatkan ranking 1 dari kelas 1 sampai kelas 6 SD. Saya sangat
bersyukur dapat membanggakan ibu dan bapak saya. Masih jelas ingatan-ingatan
itu. Bapak saya sering dipanggil oleh kepala sekolah untuk menerima hadiah. Saya
berharap semangat belajar saya akan terus seperti itu. Saya ingin membahagiakan
ibu dan bapak saya.
Sampai sekarang saya tidak
diperbolehkan bapak saya untuk naik motor. Mungkin bapak saya terlalu takut
untuk membiarkan anaknya mengendarai sepeda motor sendirian di jalan raya. Ketika
saya masuk ke SMP Kaliori saya tetap naik sepeda ontel. Saya mensyukurinya. Allah
masih memberikan sepeda ontel untuk menemani saya berangkat sekolah. Saya bersyukur.
Di kota Rembang tepatnya di SMA Negeri 2 Rembang saya melanjutkan sekolah. Hari-hari
paling berat ketika di sekolah adalah pada saat ujian nasional tiba. Selesai ujian
saya ditolak perguruan tinggi negeri. Saya pun move on dari PTN kemudian saya
masuk ke Universitas PGRI Semarang. Di dunia kuliah memang sangat berbeda
dengan dunia sekolah. Apalagi saya jauh dari orangtua dan harus pindah-pindah
kos karena berbagai alasan.
Kuliah saya mengikuti UKM yang
mengantarkan saya untuk belajar mencintai sastra. Pada awalnya saya tidak
mengetahui sastra itu apa. Namun saya mulai belajar untuk membaur bersama
teman-teman satu UKM untuk mengikuti kelas menulis, bertemu sastrawan, dan
banyak membaca buku. Sebenarnya semua itu sangat menyenangkan. Akan tetapi
kendala waktu kuliah dan waktu di camp yang kadang bertabrakan membuat saya
sering malas untuk ke camp. Begitulah kehidupan selama saya menjadi mahasiswa.
Terima
kasih sudah merelakan waktunya untuk membaca riwayat hidup saya yang ala
kadarnya ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar