Kardus Merah Gina
Sepulang
sekolah Gina tak sengaja hampir melindas sebuah kardus bekas yang tergeletak di
tengah jalan. Ia menghentikan sepedanya. Lalu, menghampiri kardus merah yang
bagian pojoknya sedikit peyok terlindas ban. Lama ia melihat dan membolak-balikkan
kardus itu. Kardus itu terlihat masih baru dan kosong. Awalnya Gina tidak ingin
memungut kardus itu. Namun, karena ia jarang menemui kardus cantik berwarna
merah, akhirnya ia membawa kardus itu pulang ke rumah.
“Pulang sekolah kok bawa sampah
kardus bekas, Gin? Cepat buang sana!” tegur mama.
“Tapi, kardus ini sangat bermanfaat,
Ma,” jawab Gina.
“Yasudah. Tapi, jangan sampai
mengotori rumah agar tidak jadi sarang nyamuk,” ujar mama memperingatkan.
Gina mengacungkan jempol. “Sip deh, Ma.”
Gina melangkah menuju kamar. Setelah
mencium kardus warna merah itu, ia berjinjit untuk meletakkan di atas almari.
***
Keesokan
harinya wajah Gina terlihat kesal. Ia meletakkan kedua tangan di pinggang. Ia
berjongkok mencari sesuatu di bawah kasur. Lalu, kembali berdiri dan mendorong
kursi untuk membantunya mencari sesuatu di atas almari. Berulang kali ia keluar
masuk kamar. Namun, tetap saja ia tidak menemukan kardus merah itu. Bibirnya
mengerucut karena kesal.
“Nyariin apa sih, Gin? Kok kelihatannya
sibuk banget,” tanya mama heran.
Gina menggaruk-garuk kepalanya yang
tidak gatal. Ia mengingat-ingat saat ia menaruh kardus merah itu. “Itu, Ma,
kardus merah yang aku bawa ke rumah kemarin hilang,” jawab Gina.
“Mana mungkin bisa hilang? Coba
dicari lagi!” seru mama sambil membantu mencari di atas almari.
“Sudah Gina cari dimana-mana. Tapi,
tidak ketemu, Ma!” Gina menghentakkan kaki karena kesal, “perasaan kemarin Gina
taruh di atas almari itu kok, Ma.” Gina menunjuk almari tempat ia menyimpan
kardus itu.
“Nanti mama cariin kardus yang baru
deh,” ucap mama mencoba menenangkan Gina.
“Gak mau, Ma! Kardus itu sudah Gina
isi sesuatu,” balas Gina dengan kesal.
Gina kembali mengobrak-abrik seisi
kamar. Namun, kardus itu tetap tidak ada. Tak lama kemudian datanglah Kak Rio.
Ia menghampiri Gina yang sedang kesal.
“Kamu kenapa sih, Gin?” tanya Rio
heran.
Gina memasang muka sebal. “Kardus
merah Gina hilang, Kak!”
“Oh, kardus bekas itu...”
“Dimana kardus merah itu?” potong
Gina cepat.
“Tadi pagi sudah kakak buang ke
tukang sampah.”
“Kakak kok gak bilang dulu sih sama
Gina?” Gina semakin geram.
“Ya mana kakak tahu. Itu kan kardus
bekas biasa. Lagipula kalau ditaruh di atas almari terlalu lama nanti jadi
sarang nyamuk,” jawab Rio santai.
Gina langsung berlari keluar rumah.
Ia mencari Mang Udin, tukang sampah yang biasa lewat di depan rumahnya. Gina
celingukan mencari Mang Udin. Semoga Mang
Udin belum terlalu jauh dari sini, pikir Gina dalam hati. Gina melihat
gerobak sampah Mang Udin berhenti di depan rumah Bu Surti.
“Mang Udin, tunggu!” teriak Gina. “Mang
Udin tahu kardus warna merah yang tadi dijual Kak Rio?”
“Oh, kardus bekas ini?” Mang Udin
menunjukkan kardus yang dimaksud Gina.
“Iya. Kardus ini aku ambil lagi ya,
Mang.”
“Ah, gak usah. Ambil saja, gratis
kok!” kata Mang Udin dengan senang hati.
Ia pun membawa kardus itu pulang.
“Ketemu dimana kardusnya?” tanya
mama.
“Dibuang Kak Rio di Mang Udin, Ma,”
jawab Gina.
Malam harinya Gina mengikat kuat
kardus bekas berwarna merah itu. Kardus itu semakin cantik dengan pita senada
berwarna merah di pojok kanan atas. Gina mencium kardus itu. Kemudian ia keluar
dari kamar untuk menemui mamanya yang sedang mempersiapkan makan malam.
“Mau makan kok bawa-bawa kardus itu
lagi sih, Gin?” tanya mama heran.
Gina tersenyum. Lalu, ia duduk di
kursi makan. “Sekarang ini bukan kardus biasa lagi, Ma. Ini hadiah untuk mama.”
Gina memberikan kardus merah itu. “Buka saja, Ma,” pinta Gina.
Mama Gina tersenyum dan berkata,
“Kamu juara menggambar?” mama Gina kaget ketika melihat isi di dalam kardus
merah itu adalah sebuah piala.
“Iya, Ma. Piala itu aku persembahkan
untuk mama,” kata Gina.
“Tapi, kenapa wadahnya harus kardus
bekas?” tanya mama lagi.
“Kata bu guru, kita harus
memanfaatkan barang-barang bekas di sekitar lingkungan. Meskipun terlihat
sederhana. Tapi, sekarang kardus itu jadi suatu barang yang bermanfaat kan, Ma?”
“Iya, Nak. Mama bangga padamu,” kata
mama Gina seraya mengecup kening Gina.
Ajeng Diah Febtriani,
Universitas PGRI Semarang.