Jumat, 21 September 2018


Kardus Merah Gina

Sepulang sekolah Gina tak sengaja hampir melindas sebuah kardus bekas yang tergeletak di tengah jalan. Ia menghentikan sepedanya. Lalu, menghampiri kardus merah yang bagian pojoknya sedikit peyok terlindas ban. Lama ia melihat dan membolak-balikkan kardus itu. Kardus itu terlihat masih baru dan kosong. Awalnya Gina tidak ingin memungut kardus itu. Namun, karena ia jarang menemui kardus cantik berwarna merah, akhirnya ia membawa kardus itu pulang ke rumah.
            “Pulang sekolah kok bawa sampah kardus bekas, Gin? Cepat buang sana!” tegur mama.
            “Tapi, kardus ini sangat bermanfaat, Ma,” jawab Gina.
            “Yasudah. Tapi, jangan sampai mengotori rumah agar tidak jadi sarang nyamuk,” ujar mama memperingatkan.
            Gina mengacungkan jempol. “Sip deh, Ma.”
            Gina melangkah menuju kamar. Setelah mencium kardus warna merah itu, ia berjinjit untuk meletakkan di atas almari.
 ***
Keesokan harinya wajah Gina terlihat kesal. Ia meletakkan kedua tangan di pinggang. Ia berjongkok mencari sesuatu di bawah kasur. Lalu, kembali berdiri dan mendorong kursi untuk membantunya mencari sesuatu di atas almari. Berulang kali ia keluar masuk kamar. Namun, tetap saja ia tidak menemukan kardus merah itu. Bibirnya mengerucut karena kesal.
            “Nyariin apa sih, Gin? Kok kelihatannya sibuk banget,” tanya mama heran.
            Gina menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia mengingat-ingat saat ia menaruh kardus merah itu. “Itu, Ma, kardus merah yang aku bawa ke rumah kemarin hilang,” jawab Gina.
            “Mana mungkin bisa hilang? Coba dicari lagi!” seru mama sambil membantu mencari di atas almari.
            “Sudah Gina cari dimana-mana. Tapi, tidak ketemu, Ma!” Gina menghentakkan kaki karena kesal, “perasaan kemarin Gina taruh di atas almari itu kok, Ma.” Gina menunjuk almari tempat ia menyimpan kardus itu.
            “Nanti mama cariin kardus yang baru deh,” ucap mama mencoba menenangkan Gina.
            “Gak mau, Ma! Kardus itu sudah Gina isi sesuatu,” balas Gina dengan kesal.
            Gina kembali mengobrak-abrik seisi kamar. Namun, kardus itu tetap tidak ada. Tak lama kemudian datanglah Kak Rio. Ia menghampiri Gina yang sedang kesal.
            “Kamu kenapa sih, Gin?” tanya Rio heran.
            Gina memasang muka sebal. “Kardus merah Gina hilang, Kak!”
            “Oh, kardus bekas itu...”
            “Dimana kardus merah itu?” potong Gina cepat.
            “Tadi pagi sudah kakak buang ke tukang sampah.”
            “Kakak kok gak bilang dulu sih sama Gina?” Gina semakin geram.
            “Ya mana kakak tahu. Itu kan kardus bekas biasa. Lagipula kalau ditaruh di atas almari terlalu lama nanti jadi sarang nyamuk,” jawab Rio santai.
            Gina langsung berlari keluar rumah. Ia mencari Mang Udin, tukang sampah yang biasa lewat di depan rumahnya. Gina celingukan mencari Mang Udin. Semoga Mang Udin belum terlalu jauh dari sini, pikir Gina dalam hati. Gina melihat gerobak sampah Mang Udin berhenti di depan rumah Bu Surti.
            “Mang Udin, tunggu!” teriak Gina. “Mang Udin tahu kardus warna merah yang tadi dijual Kak Rio?”
            “Oh, kardus bekas ini?” Mang Udin menunjukkan kardus yang dimaksud Gina.
            “Iya. Kardus ini aku ambil lagi ya, Mang.”
            “Ah, gak usah. Ambil saja, gratis kok!” kata Mang Udin dengan senang hati.
            Ia pun membawa kardus itu pulang.
            “Ketemu dimana kardusnya?” tanya mama.
            “Dibuang Kak Rio di Mang Udin, Ma,” jawab Gina.
            Malam harinya Gina mengikat kuat kardus bekas berwarna merah itu. Kardus itu semakin cantik dengan pita senada berwarna merah di pojok kanan atas. Gina mencium kardus itu. Kemudian ia keluar dari kamar untuk menemui mamanya yang sedang mempersiapkan makan malam.
            “Mau makan kok bawa-bawa kardus itu lagi sih, Gin?” tanya mama heran.
            Gina tersenyum. Lalu, ia duduk di kursi makan. “Sekarang ini bukan kardus biasa lagi, Ma. Ini hadiah untuk mama.” Gina memberikan kardus merah itu. “Buka saja, Ma,” pinta Gina.
            Mama Gina tersenyum dan berkata, “Kamu juara menggambar?” mama Gina kaget ketika melihat isi di dalam kardus merah itu adalah sebuah piala.
            “Iya, Ma. Piala itu aku persembahkan untuk mama,” kata Gina.
            “Tapi, kenapa wadahnya harus kardus bekas?” tanya mama lagi.
            “Kata bu guru, kita harus memanfaatkan barang-barang bekas di sekitar lingkungan. Meskipun terlihat sederhana. Tapi, sekarang kardus itu jadi suatu barang yang bermanfaat kan, Ma?”
            “Iya, Nak. Mama bangga padamu,” kata mama Gina seraya mengecup kening Gina.

Ajeng Diah Febtriani, Universitas PGRI Semarang.

Rahasia Gudang Kakek Robin

            Mata Olif membulat. Ia melepaskan gandengan tangan Kak Windy. Lalu, ia berlari menghampiri seorang penjual boneka barbie di pasar malam. Olif mendongakkkan kepalanya. Jari mungilnya menunjuk tepat ke sebuah boneka barbie. Ia menarik-narik baju kakaknya mengisyaratkan agar dibelikan. Tanpa berkata pun Windy paham maksud Olif.
            “Di rumah sudah ada banyak boneka. Kenapa minta boneka lagi, Olif!” teriak Windy kesal
            “Tapi, Olif belum punya boneka barbie yang bisa bicara, Kak. Olif mau boneka barbie. Pokoknya beliin boneka barbie itu!” rengek Olif sambil menunjuk boneka yang ia minta.
            Windy menghentakkan kakinya karena kesal. “Aduh, Olif... kakak lagi gak bawa uang, nih!”
            “Ayo dong, Kak! Beliin plis!” rengekan Olif semakin keras.
            “Gimana kalo kakak berjanji akan mengajak liburan ke rumah Kakek Robin? Tapi, hari ini kamu jangan minta dibeliin boneka. Mau nggak?” bujuk Windy.
            “Mau mau, Kak! Mau!” jawab Olif yang dengan mudahnya melupakan boneka barbie itu.
            ***
            Keesokan harinya Windy dan Olif pergi ke desa untuk menemui Kakek Robin. Sesampainya disana Olif sangat senang karena dapat membantu Kakek Robin berkebun. Ia memilih untuk menanam wortel. Sementara Windy sibuk menyiram sayur-sayuran di kebun.
            Kakek Robin mendatangi Windy dan Olif dengan membawa ember berisi susu sapi.
            “Cucu-cucu kakek memang hebat,” pujinya.
            “Iya dong, Kek,” ucap Windy
            Kakek Robin meletakkan ember susunya. “Sebagai hadiah karena kalian sudah membantu kakek, kalian boleh memakan semua buah-buahan yang ada di kebun kakek. Tapi...”
            “Tapi apa, Kek?” potong Olif penasaran.
            “Tapi jangan sampai kalian masuk ke dalam gudang tua kakek ya,” kata Kakek Robin memperingatkan.
            “Siap, Kek,” sahut Olif dan Windy hampir bersamaan.
            Kakek Robin meninggalkan Olif dan Windy yang asyik kejar-kejaran di kebun wortel miliknya. Saat itu, tidak sengaja Olif melihat sebuah gudang tua di belakang rumah Kakek Robin.
            “Kakak, itu gudang apa?” tanya Olif ketika melihat sebuah gudang tua yang terkunci rapat di belakang rumah kakeknya.
            “Entahlah. Kakak tidak tahu,” jawab Windy.
            Mereka kembali berkejar-kejaran di kebun kakek sampai mereka merasa lelah.
***
Olif dan Windy betah berlama-lama di rumah Kakek Robin. Malam ini mereka menginap di rumah Kakek Robin. Namun, Olif tidak dapat tidur. Ia takut saat mendengar suara-suara aneh dari dalam gudang tua kakeknya. Ia beranjak dari kasur untuk membangunkan kakaknya yang sedang tertidur pulas.
“Kak Windy, bangun! Olif takut, Kak,” bisik Olif.
Windy hanya menggeliat dan menarik selimutnya. “Takut apaan sih, Lif? Kakak ngantuk banget, nih! Ayo, cepetan tidur udah malam!”
Olif menggoyangkan badan kakaknya supaya bangun dan berbisik di telinga Windy. “Ada suara-suara aneh di gudang belakang, Kak! Coba kakak dengerin, deh!”
Setengah sadar Windy juga mendengar suara-suara aneh yang dimaksudkan Olif. Windy mencoba membuka mata. Lalu, ia bangun dan mengenakan jaket. Tangannya meraba-raba mencari senter yang ada di meja.
“Ayo kita cari tahu,” ujar Windy dengan antusias.
Olif membulatkan matanya. Langkah kakinya mengendap-endap mengikuti arah langkah Windy. Ia mencoba mencari asal sumber suara itu.
Olif menarik jaket Windy. “Aku takut, Kak,” bisik Olif ketika langkahnya hampir sampai gudang.
“Tenang, Olif. Kita sudah sampai. Suara itu semakin jelas dari dalam gudang ini.” Windy menunjuk ke arah gudang tua itu.
“Aku takut membukanya, Kak. Kakak saja yang buka pintunya,” bisik Olif dengan suara gemetar.
“Baiklah kakak akan mencoba membuka pintunya,” kata Windy dengan penuh keberanian.
“Kreeek!!!” Pintu gudang sedikit terbuka.
Tiba-tiba Kakek Robin datang mengagetkan Olif dan Windy.
“Kalian kenapa malam-malam begini kesini?” Senter Kakek Robin tepat mengarah ke wajah Olif.
“Kita mencari suara aneh di dalam gudang tua ini, Kek,” jelas Windy.
Kakek Robin maju melebarkan pintu gudang yang hampir terbuka. Olif menutup mata. Ia takut akan ada sesuatu yang menakutkan di dalam gudang.
“Waaah! Ini semua milik kakek?” tanya Olif ketika membuka matanya.
Kakek Robin masuk ke dalam gudang itu. “Dulu, sebelum kakek mempunyai kebun, kakek adalah seorang pendongeng anak-anak. Oleh karena itu, kakek mempunyai banyak boneka di gudang,” jelas Kakek Robin sambil meniup boneka-boneka tua yang telah usang karena debu.
“Lalu, suara-suara aneh itu apa?” tanya Olif.
“HAHA-ha itu hanya suara anak kucing yang tidak sengaja tertindih kayu di samping gudang ini, Olif,” ujar Windy sambil menggendong kucing yang malang itu.
“Kakek, bolehkah Windy mengambil salah satu dari boneka-boneka ini, Kek?” tanya Olif tak sabar.
“Kata siapa tidak boleh? Boleh... boleh... ambil saja semuanya.”
“Horeee!” teriak Olif gembira.
Akhirnya Olif dan Windy pulang ke rumah dengan membawa boneka yang ada di gudang Kakek Robin. Olif tidak membawa semua boneka itu. Namun, ia memilih boneka barbie yang pernah ia inginkan saat diajak Kak Windy ke pasar malam. Windy berjanji saat liburan nanti ia akan kembali ke rumah Kakek Robin lagi.

Ajeng Diah Febtriani, Universitas PGRI Semarang.